Get the Latest in Your Inbox
Want to stay up to date on the state of the world’s forests? Subscribe to our mailing list.
Subscribe
Kehilangan hutan primer di daerah tropis berkurang pada tahun 2025, setelah kehilangan yang memecahkan rekor pada tahun 2024 yang disebabkan oleh kebakaran ekstrem. Data baru dari lab GLAD University of Maryland, yang tersedia di platform WRI, Global Forest Watch dan Global Nature Watch, menunjukkan bahwa kehilangan hutan hujan primer tropis turun sebesar 36% dibandingkan dengan tahun 2024.
Hilangnya hutan primer tropis menurun sebesar 36% dari tahun 2024 hingga 2025, menyusul tahun 2024 yang mencatat rekor kebakaran ekstrem
Less
Tahun ini, data kehilangan tutupan pohon juga tersedia di Global Nature Watch, sebuah platform terbuka yang didukung kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh WRI. Platform ini menyatukan hasil penelitian yang telah melalui tinjauan sejawat dari Global Forest Watch dan Land & Carbon Lab dalam antarmuka bergaya obrolan yang sederhana, sehingga data lahan yang kompleks pun menjadi mudah dimanfaatkan. Tahun depan, Global Nature Watch akan menjadi tempat bagi pengguna untuk menjelajahi data kehilangan tutupan pohon serta rangkaian penelitian berbasis data WRI mengenai hutan dan lahan. Jelajahi Global Nature Watch di sini.
Less
Meskipun penurunan ini menggembirakan, dunia masih kehilangan 4,3 juta hektare hutan primer tropis pada tahun 2025, setara dengan hutan seluas lebih dari 11 lapangan sepak bola per menit. Kehilangan hutan primer tropis masih 46% lebih tinggi daripada satu dekade yang lalu.
Kehilangan hutan yang berkelanjutan ini mengurangi banyak jasa ekologis yang disediakan hutan primer tropis. Ekosistem ini sangat penting untuk keanekaragaman hayati, penyediaan air, penyimpanan karbon, makanan dan obat-obatan, identitas budaya, dan banyak lagi.
More
Mengapa kami berfokus pada hutan primer tropis? Meskipun data kehilangan tutupan pohon dari University of Maryland memiliki cakupan global, Global Forest Watch utamanya berfokus pada kehilangan di daerah tropis karena di sanalah 94% deforestasi, atau penghilangan hutan jangka panjang yang disebabkan oleh manusia, terjadi. Artikel ini utamanya berfokus pada hutan primer di daerah tropis yang lembap, yang merupakan area hutan hujan tropis matang yang sangat penting untuk keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan pengaturan iklim regional dan lokal.
More
Sebagian besar penurunan pada tahun 2025 berasal dari penurunan tajam di Brasil, yang mengalami penurunan 42% dalam kehilangan hutan primer. Namun demikian, Brasil masih menempati peringkat sebagai negara dengan area kehilangan hutan hujan tropis terbesar, mengingat hutannya yang besar.
Beberapa negara berhutan besar lainnya, termasuk Kolombia, Indonesia, dan Malaysia, juga menunjukkan laju kehilangan hutan yang relatif rendah atau stabil pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun-tahun terakhir. Kehilangan hutan primer tropis tetap tinggi di negara-negara seperti Bolivia dan Republik Demokratik Kongo.
Beberapa negara mendominasi kehilangan hutan primer tropis pada tahun 2025 berdasarkan luas wilayah, namun rinciannya berbeda jika dilihat berdasarkan persentasenya
More
Ekspansi pertanian adalah penyebab utama kehilangan tutupan pohon di seluruh daerah tropis, termasuk produksi komoditas berorientasi pasar dan pertanian subsisten untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Secara global, kebakaran kembali menjadi pendorong utama kehilangan tutupan pohon pada tahun 2025, sesuai dengan tren terkini. Selama tiga tahun terakhir, kebakaran membakar tutupan pohon lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua dekade yang lalu. Perubahan iklim mengancam hutan, baik di dalam maupun di luar daerah tropis, dengan panas ekstrem dan kekeringan yang memicu kebakaran hutan yang lebih besar dan lebih merusak.
Tahun 2025 melanjutkan tren yang terlihat selama 25 tahun terakhir, dengan pertanian menjadi penyebab utama kehilangan tutupan pohon tropis dan kebakaran mendorong kehilangan di wilayah beriklim sedang utara dan boreal
More
Untuk lebih memahami tren yang mendasari kehilangan hutan, ada baiknya untuk mempertimbangkan kehilangan nonkebakaran secara terpisah dari kehilangan terkait kebakaran. Kebakaran telah menjadi pendorong kehilangan hutan yang semakin menonjol secara global, sebagian karena lingkaran umpan balik dari perubahan iklim, tetapi juga sangat bervariasi dari tahun ke tahun tergantung pada kondisi cuaca seperti kekeringan.
Beberapa kehilangan terkait kebakaran yang muncul pada data 2025 sebenarnya terjadi selama kebakaran akhir musim pada tahun 2024 yang tidak tertangkap lebih awal karena asap dan kabut, yang dapat menunda deteksi satelit. Kelambatan dalam deteksi ini menyulitkan untuk menilai seberapa besar kehilangan akibat kebakaran yang terjadi pada tahun 2025 dan bagaimana kehilangan akibat kebakaran berubah dari tahun 2024 hingga 2025, terutama setelah tahun kebakaran yang begitu ekstrem pada tahun 2024. Kebakaran dapat menyebabkan kerusakan signifikan, dan hutan tidak selalu pulih.
Sebaliknya, kehilangan yang tidak terkait dengan kebakaran seperti pembukaan hutan untuk pertanian, infrastruktur, penebangan, atau pertambangan kurang dipengaruhi oleh variabilitas jangka pendek dalam cuaca dan deteksi.
Read More +
More
Dengan hanya beberapa tahun yang tersisa untuk mencapai tujuan global menghentikan dan membalikkan kehilangan hutan pada tahun 2030, negara-negara seperti Brasil menunjukkan bahwa melindungi hutan dimungkinkan melalui kebijakan dan langkah-langkah lainnya. Namun, mencapai tujuan global tidak akan mudah karena hutan menjadi lebih rentan terhadap perubahan iklim dan meningkatnya permintaan manusia akan makanan, bahan bakar, dan bahan yang bersumber dari hutan serta lahan tempat hutan berada.
Berikut adalah pandangan yang lebih mendalam pada beberapa temuan utama dari data 2025:
More
Kebijakan Memperlambat Kehilangan Hutan di Negara-negara Tropis Utama
Beberapa negara mengurangi atau setidaknya menstabilkan kehilangan hutan mereka pada tahun 2025, termasuk Brasil, Kolombia, Indonesia, dan Malaysia. Perkembangan yang menggembirakan ini dikaitkan dengan perubahan kebijakan, penegakan hukum yang lebih baik, dan tindakan sukarela perusahaan untuk membatasi pembukaan hutan. Jelas terlihat bahwa ketika negara-negara memiliki tekad politik untuk meningkatkan tata kelola hutan, mereka dapat mengurangi kehilangan hutan relatif cepat.
Brasil memberikan salah satu contoh paling nyata. Sebagai rumah bagi hutan hujan terbesar di dunia, Brasil mengalami tingkat kehilangan hutan primer nonkebakaran terendah yang tercatat pada tahun 2025, 41% lebih rendah daripada tahun 2024. Brasil juga memiliki persentase kehilangan yang lebih rendah daripada banyak negara lain, kehilangan 0,5% dari hutan primernya pada tahun 2025. Temuan ini selaras dengan PRODES, sistem pemantauan hutan resmi Brasil.
Brasil secara signifikan mengurangi kehilangan hutan primer pada tahun 2025 dan mencatat tingkat kehilangan hutan primer nonkebakaran terendah dalam catatan
More
Di luar hutan hujan primer, sebagian besar bioma Brasil lainnya juga mengalami penurunan kehilangan tutupan pohon, kecuali Caatinga, yang meningkat sebesar 9%. Amazonia dan Pantanal mengalami pengurangan kehilangan tutupan pohon terbesar dari 2024 hingga 2025.
Kehilangan tutupan pohon menurun di sebagian besar bioma Brasil dari 2024 hingga 2025
More
Penurunan di Brasil terkait dengan kebijakan dan penegakan lingkungan yang lebih kuat sejak 2023, ketika Presiden Luiz Inácio Lula da Silva (dikenal sebagai Lula) mulai menjabat. Contohnya, pemerintahan Lula meluncurkan kembali PPCDAm, kerangka kerja kebijakan antideforestasi yang mengoordinasikan tindakan di 19 lembaga federal, dan memperluasnya untuk mencakup semua bioma. Didirikan pada tahun 2004, PPCDAm membantu mendorong penurunan besar dalam kehilangan hutan primer di Amazon pada awal 2000-an. Penegakan hukum juga telah meningkat — lembaga lingkungan federal Brasil, IBAMA, meningkatkan pemberitahuan pelanggaran lingkungan sebesar 81% dan denda sebesar 63% pada 2023-2025 dibandingkan dengan 2020-2022.
Brasil juga telah memainkan peran penting dalam membentuk upaya global untuk melindungi hutan, termasuk meluncurkan Tropical Forest Forever Facility di COP30, sebuah mekanisme keuangan yang diusulkan untuk menghargai negara-negara hutan tropis karena melestarikan hutan mereka.
Namun demikian, ancaman terhadap hutan Brasil tetap ada. Pertanian permanen terus menjadi pendorong terbesar kehilangan hutan primer (73% antara 2002-2025), terutama untuk kedelai dan ternak. Beberapa negara bagian di Amazon telah mengesahkan undang-undang yang melemahkan perlindungan lingkunan di tingkat negara bagian, ancaman bagi kemajuan yang ada.
Contohnya, Rondônia, Maranhão, dan Mato Grosso menghapus insentif pajak untuk perusahaan yang merupakan bagian dari moratorium kedelai, perjanjian sukarela di antara pedagang kedelai untuk tidak membeli kedelai dari kawasan yang mengalami deforestasi di Amazon. Langkah-langkah ini meningkatkan ketidakpastian seputar masa depan moratorium kedelai, dan merupakan salah satu alasan mengapa pada awal 2026 pedagang kedelai besar mengumumkan rencana untuk menarik diri dari perjanjian.
Selain itu, meskipun tindakan pemerintah untuk mengurangi kebakaran dan kondisi cuaca yang membaik memperlambat kehilangan akibat kebakaran di Brasil secara keseluruhan, masih ada titik panas kebakaran di negara bagian Maranhão yang kemungkinan dipicu oleh manusia.
Negara tropis lainnya yang mengalami penurunan atau stabilisasi kehilangan hutan meliputi:
Kolombia
Kehilangan hutan primer di Kolombia menurun sebesar 17% dari 2024 hingga 2025. Ini adalah tahun terendah kedua sejak 2016, tetapi lebih tinggi dari tingkat rendah pada tahun 2023.
Kehilangan hutan primer Kolombia menurun sebesar 17% dari 2024 hingga 2025
More
Penurunan ini terkait dengan kebijakan dan perjanjian pemerintah yang bertujuan untuk membatasi pembukaan hutan. Contohnya, resolusi 2025 menetapkan kerangka hukum untuk menciptakan konsesi hutan bagi anggota masyarakat pedesaan sebagai alat untuk konservasi hutan. Pengakuan atas Entitas Teritorial Pribumi baru-baru ini untuk mengatur sendiri wilayah Amazon Kolombia juga merupakan langkah besar ke depan, memberikan lebih banyak otoritas kepada Masyarakat Adat untuk mempertahankan hutan mereka. Undang-undang baru yang mewajibkan ketertelusuran untuk sektor ternak di negara ini juga merupakan perkembangan yang signifikan, yang bertujuan untuk memastikan bahwa daging sapi yang dijual di pasar Kolombia tidak terkait dengan deforestasi.
Namun, ancaman terus berlanjut. Jalan-jalan telah meluas ke hutan Amazon, termasuk di dalam kawasan lindung dan Wilayah Adat. Jalan yang diduga ilegal ini sering dikaitkan dengan aktivitas yang melibatkan kelompok bersenjata, termasuk produksi tanaman terlarang, perampasan lahan, dan perluasan peternakan sapi selanjutnya. Dan terlepas dari larangan baru-baru ini terhadap proyek pertambangan baru di Amazon, penambangan ilegal merupakan ancaman yang muncul.
Indonesia
Kehilangan hutan primer meningkat sebesar 14% di Indonesia dari 2024 hingga 2025, tetapi tingkatnya tetap jauh di bawah puncak pada pertengahan 2010-an. (Baca lebih lanjut di sini tentang bagaimana data UMD berbeda dari data resmi Indonesia.)
Kehilangan hutan primer di Indonesia meningkat sebesar 14% dari tahun 2024 hingga 2025, yang sebagian disebabkan oleh perluasan lahan pertanian dan kegiatan pertambangan
More
Kebijakan pemerintah telah membantu menjaga kehilangan hutan relatif rendah dalam beberapa tahun terakhir, termasuk moratorium permanen pada izin baru di hutan primer dan lahan gambut, memperkuat pencegahan dan pemantauan kebakaran, serta target FOLU Net Sink 2030 Indonesia, yang bertujuan agar sektor kehutanan dan penggunaan lahan menyerap lebih banyak karbon daripada emisi yang dilepaskan pada akhir dekade ini. Komitmen sukarela sektor swasta terhadap produksi bubur kertas dan kelapa sawit bebas deforestasi juga berperan. Janji yang lebih baru untuk memperkuat hak tanah Masyarakat Adat juga mengisyaratkan momentum berkelanjutan dalam perlindungan hutan.
Sebagian kenaikan pada tahun 2025 terkait dengan ekspansi pertanian, termasuk pembukaan hutan di Papua Selatan yang terkait dengan program food estate. Kebijakan ini merupakan bagian dari dorongan yang lebih besar untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi dan diperkirakan akan terus membentuk penggunaan lahan pada tahun-tahun mendatang. Ekspansi pertambangan, khususnya untuk nikel, juga memicu kehilangan hutan di Sulawesi dan wilayah lainnya.
Perluasan pertambangan memicu hilangnya hutan di Sulawesi, Indonesia
More
Malaysia
Malaysia adalah contoh lain di mana kebijakan berupaya menstabilkan kehilangan hutan. Ekspansi kelapa sawit secara historis mendorong sebagian besar pembukaan hutan di Malaysia — kebijakan yang menargetkan sektor tersebut memiliki dampak yang sangat besar dalam mengurangi kehilangan hutan. Upaya pemerintah untuk membatasi perluasan kelapa sawit ke dalam kawasan hutan, memperkuat tata kelola hutan, dan berkomitmen untuk mempertahankan setidaknya 50% tutupan hutan berjalan seiring dengan komitmen perusahaan sukarela untuk mengurangi deforestasi. Baru-baru ini, sertifikasi Malaysia Sustainable Palm Oil (MSPO) yang lebih kuat kemungkinan juga membantu mempertahankan tingkat kehilangan hutan yang lebih rendah.
Kehilangan hutan primer di Malaysia tetap rendah pada tahun 2025
More
Namun demikian, Malaysia telah kehilangan hampir seperlima hutan hujan primernya sejak 2001, sebagian besar karena ekspansi pertanian dan penebangan.
More
Ekspansi Komoditas Mendorong Kehilangan Hutan di Amerika Latin dan Asia Tenggara
Permintaan komoditas seperti ternak, kedelai, minyak sawit, emas, dan mineral lainnya terus memicu kehilangan hutan di beberapa negara, terutama di beberapa bagian Amerika Latin dan Asia Tenggara. Meskipun pendorong kehilangan hutan bervariasi di setiap negara, pendorong ini mencerminkan tantangan umum berupa insentif ekonomi yang persisten untuk mengonversi hutan seraya meremehkan banyak manfaat yang diberikan.
Bolivia
Kehilangan hutan primer mencapai tingkat tertinggi kedua dalam catatan di Bolivia pada tahun 2025, menyusul kebakaran yang memecahkan rekor tahun lalu. Bolivia sekali lagi mengalami kehilangan hutan primer tropis tertinggi kedua pada tahun 2025, lebih tinggi daripada Republik Demokratik Kongo, meskipun memiliki 60% lebih sedikit luas hutan primer.
Kehilangan hutan primer Bolivia pada tahun 2025 adalah rekor tertinggi kedua, setelah peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2024
More
Kebakaran, yang kemungkinan dipicu oleh manusia, menyebabkan sebagian besar kehilangan hutan primer pada tahun 2025, meskipun banyak dari kehilangan ini mencakup keterlambatan deteksi kebakaran akhir musim dari tahun 2024, ketika Bolivia mengalami tahun kebakaran yang menghancurkan setelah kekeringan parah. Meskipun curah hujan kembali ke tingkat normal di beberapa bagian negara ini pada tahun 2025, Bolivia perlu mengambil langkah proaktif untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran guna menghindari kebakaran katastropik di masa depan, terutama karena perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas kondisi kering dan panas.
Titik panas baru kehilangan hutan primer di Bolivia menunjukkan perluasan kehilangan hutan yang berkelanjutan di utara, mencakup kebakaran skala besar di El Beni
More
Kehilangan hutan primer nonkebakaran adalah rekor tertinggi keempat, sebagian besar disebabkan oleh perluasan peternakan sapi dan tanaman seperti kedelai, jagung, dan sorgum. Kehilangan terus berlanjut meskipun terjadi kekurangan bahan bakar pada tahun 2025 yang membatasi penggunaan mesin pertanian dan mengganggu transportasi di seluruh rantai pasokan. Ada sedikit indikasi bahwa Bolivia kemungkinan akan mengambil tindakan untuk mencegah perambahan pertanian lebih lanjut ke dalam hutan negara tersebut.
Peru dan Laos
Meskipun Peru dan Laos mengalami penurunan kehilangan hutan primer dari 2024 hingga 2025 (masing-masing 8% dan 31%), kedua negara tetap berada dalam daftar 10 teratas untuk luas kehilangan hutan primer tropis tertinggi. Tingkat kehilangan hutan secara keseluruhan meningkat pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena ekspansi pertanian.
Di Peru, kehilangan sebagian besar didorong oleh perluasan tanaman seperti kakao dan kelapa sawit, serta pertambangan. Contohnya, pertambangan emas bertanggung jawab atas 33% kehilangan hutan primer pada 2002-2025 di wilayah Madre de Dios.
Di Laos, kehilangan terutama didorong oleh karet, singkong, pisang, dan ekspor pertanian lainnya yang terkait dengan pasar di Tiongkok, Thailand, dan Vietnam. Pertanian subsisten skala kecil juga menyebabkan kehilangan hutan di beberapa daerah.
More
Kebutuhan Subsisten dan Tantangan Tata Kelola Memicu Kehilangan Hutan di Beberapa Wilayah
Sementara produksi komoditas skala besar mendorong hilangnya hutan di beberapa daerah, di daerah lain, termasuk sebagian Cekungan Kongo, Madagaskar, dan sebagian Asia Tenggara seperti dataran tinggi di Myanmar dan Laos utara, kehilangan lebih terkait erat dengan kebutuhan lokal akan makanan dan kayu bakar, yang berasal dari kemiskinan dan terbatasnya alternatif ekonomi. Pertumbuhan populasi, tata kelola yang tidak stabil, dan kondisi ekonomi juga berkontribusi.
Contohnya, Cekungan Kongo, yang mencakup Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Guinea Khatulistiwa, Gabon, dan Republik Kongo, adalah penyerap karbon hutan tropis terbesar di dunia yang tersisa dan memainkan peran penting dalam mengatur iklim global. Namun di beberapa negara Cekungan Kongo, kehilangan hutan primer telah meningkat selama dekade terakhir.
Republik Demokratik Kongo (DRC), yang memiliki kawasan hutan primer tropis terbesar kedua di dunia, mengalami jumlah kehilangan hutan primer tropis tertinggi ketiga pada tahun 2025. Namun demikian, persentase kehilangan (0,5%) tetap lebih rendah daripada banyak negara.
Kehilangan hutan primer DRC menurun sebesar 5% dari 2024 hingga 2025, tetapi kehilangan nonkebakaran adalah yang tertinggi yang pernah tercatat
More
Sebagian besar kehilangan hutan primer DRC (86% antara 2002 dan 2025) disebabkan oleh perladangan berpindah skala kecil, di mana lahan dibuka untuk budi daya tanaman jangka pendek dan kemudian dibiarkan bera agar hutan dan unsur hara tanah pulih. Pemanenan kayu bakar dan arang, bentuk energi yang dominan di negara ini, juga menjadi pendorong utama. Kehilangan hutan primer yang tidak terkait dengan kebakaran adalah yang tertinggi yang pernah tercatat bagi negara ini, menunjukkan bahwa pendorong ini terus meningkat.
Di DRC timur, konflik yang sedang berlangsung telah memaksa masyarakat ke daerah baru, di mana banyak yang membuka hutan untuk membuat pemukiman baru, pertanian, atau untuk mengumpulkan kayu untuk perumahan dan bahan bakar. Pertambangan juga merupakan kontributor, yang menyediakan mata pencaharian dan, di beberapa daerah, beroperasi di bawah kendali kelompok bersenjata. Penambangan juga dapat secara tidak langsung mendorong kehilangan hutan dengan membawa lebih banyak orang ke wilayah terpencil sebelumnya, yang kemudian membuka hutan untuk pertanian dan pemukiman.
Titik panas baru kehilangan hutan primer di DRC berada di dekat daerah konflik di timur, dan daerah perladangan berpindah baru di barat
More
Konversi hutan secara permanen untuk menghasilkan komoditas pertanian untuk ekspor tetap menjadi ancaman yang lebih kecil tetapi berkembang terhadap hutan DRC. Contohnya, area produksi kakao negara ini meningkat lebih dari lima kali lipat selama 2015–2024.
Kehilangan hutan bervariasi di negara-negara Cekungan Kongo lainnya.
Kehilangan hutan primer Cekungan Kongo pada tahun 2025 bervariasi di seluruh negara
More
Republik Kongo dan Gabon, keduanya negara dengan “Hutan Tinggi, Deforestasi Rendah”, mengalami tingkat kehilangan yang rendah pada tahun 2025 setelah lonjakan kehilangan terkait kebakaran pada tahun 2024 di Republik Kongo. Namun demikian, Kamerun mengalami kehilangan hutan primer tertinggi yang pernah tercatat. Kamerun adalah produsen kakao terbesar ketiga di Afrika dan peningkatan kehilangan hutan primer dalam beberapa tahun terakhir sebagian disebabkan oleh produksi kakao, serta masyarakat yang terpaksa mengungsi akibat konflik bersenjata.
Kehilangan hutan primer yang terus berlanjut di Cekungan Kongo, termasuk di lahan gambut purbanya yang luas yang menyimpan karbon dalam jumlah besar, dapat melemahkan kemampuan wilayah tersebut untuk menyimpan karbon dan mengatur iklim. Hal ini juga mengancam penghidupan dan ketahanan pangan sekitar 100 juta orang yang bergantung pada hutan ini, yaitu komunitas yang kebutuhannya mendorong sebagian besar kehilangan.
More
Perubahan Iklim Meningkatkan Ancaman terhadap Hutan di Seluruh Dunia
Perubahan iklim merupakan kekuatan yang terus membesar di balik hilangnya hutan. Perubahan ini memperparah kekeringan, panas, dan badai yang membuat hutan lebih rentan terhadap kebakaran, angin, hama, dan penyakit.
Meskipun semua hutan menghadapi risiko kebakaran yang meningkat, kebakaran hutan memberikan dampak yang paling terlihat di wilayah boreal dan beriklim sedang pada tahun 2025. Kebakaran bertanggung jawab atas 42% dari 25,5 juta hektare kehilangan tutupan pohon secara global pada tahun 2025, area yang lebih luas daripada Inggris Raya.
Kehilangan tutupan pohon global menurun sebesar 14% pada tahun 2025, tetapi kebakaran mendorong peningkatan proporsi kehilangan dalam beberapa tahun terakhir
More
Meskipun sejumlah kebakaran merupakan hal normal bagi ekosistem boreal dan beriklim sedang, perubahan iklim memperburuk musim kebakaran. Kehilangan akibat kebakaran sangat terlihat di Amerika Utara dan Eropa, di mana kondisi panas dan kering berkontribusi pada musim kebakaran hutan yang sangat parah.
Amerika Utara
Kebakaran hutan melalap hutan boreal utara di Kanada dan Alaska, serta beberapa bagian dari Pegunungan Rocky. Kebakaran hutan menyebabkan 5,3 juta hektare kehilangan tutupan pohon di Kanada, memaksa evakuasi lebih dari 80.000 orang dan menyemburkan asap ke wilayah berpenduduk padat di Amerika Serikat dan Kanada.
Kebakaran menyebabkan sebagian besar kehilangan tutupan pohon di Kanada pada tahun 2025
More
Percepatan Aksi Sangatlah Penting untuk Menghentikan Kehilangan Hutan pada tahun 2030
Data 2025 menunjukkan bahwa pengurangan kehilangan hutan dapat dilakukan. Penurunan besar di Brasil beserta laju kehilangan hutan yang relatif rendah atau stabil di Kolombia, Indonesia, dan Malaysia menyoroti bagaimana pilihan kebijakan, penegakan hukum, dan komitmen perusahaan dapat meningkatkan hasil hutan. Pada saat yang sama, kehilangan hutan yang tinggi di wilayah lain menggarisbawahi perlunya upaya yang berkelanjutan dan diperluas untuk mencegah kehilangan hutan.
Dengan hanya beberapa tahun yang tersisa untuk memenuhi tujuan global untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan hutan paling lambat pada tahun 2030, negara-negara perlu mempercepat aksi mereka.
Deforestasi pada tahun 2025 adalah 70% lebih tinggi dari tingkat yang diperlukan untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan hutan paling lambat pada tahun 2030
More
Kegagalan untuk mencapai tujuan global ini akan memiliki konsekuensi yang luas. Tingginya atau meningkatnya tingkat kehilangan hutan mendorong ekosistem penting lebih dekat ke titik kritis — ambang batas yang jika dilampaui, hutan mungkin tidak akan bisa pulih. Di hutan seperti Amazon, deforestasi dan perubahan iklim dapat menggeser beberapa bagian hutan hujan menuju keadaan seperti sabana yang terdegradasi. Kehilangan hutan berarti dunia kehilangan mitra terbaiknya dalam melindungi keanekaragaman hayati, menghentikan perubahan iklim, mempertahankan curah hujan, melindungi mata pencaharian dan identitas budaya, serta banyak lagi.
Beberapa isu yang berkembang kemungkinan akan berpengaruh besar pada tren kehilangan hutan di masa depan. Kondisi El Niño yang diprediksi muncul pada tahun 2026 akan menguji apakah negara-negara sudah lebih siap untuk mencegah dan menanggapi kebakaran skala besar. Pada saat yang sama, perkembangan kebijakan dan keuangan kemungkinan akan membentuk arah perubahan tren kehilangan hutan — termasuk apakah Tropical Forest Forever Facility mengamankan investasi yang diperlukan dan seberapa efektif peraturan global seperti Peraturan Deforestasi UE (EU Deforestation Regulation/EUDR) diterapkan dan ditegakkan.
Keputusan di tingkat nasional juga akan membentuk hasil hutan. Contohnya, di Brasil dan Kolombia, pemilu mendatang akan memainkan peran penting dalam menentukan apakah penurunan kehilangan hutan baru-baru ini dapat dipertahankan. Di Indonesia, upaya untuk memperluas produksi pangan dan energi melalui program food estate akan menguji apakah tujuan pembangunan dapat dicapai tanpa pembukaan hutan lebih lanjut.
Perkembangan ini akan menentukan kehilangan hutan di masa depan — dan dengan demikian, membentuk masa depan manusia dan planet ini.
Explore the data yourself on Global Forest Watch
More
{"Glossary":{"141":{"name":"agroforestry","description":"A diversified set of agricultural or agropastoral production systems that integrate trees in the agricultural landscape.\r\n"},"101":{"name":"albedo","description":"The ability of surfaces to reflect sunlight.\u0026nbsp;Light-colored surfaces return a large part of the sunrays back to the atmosphere (high albedo). Dark surfaces absorb the rays from the sun (low albedo).\r\n"},"94":{"name":"biodiversity intactness","description":"The proportion and abundance of a location\u0027s original forest community (number of species and individuals) that remain.\u0026nbsp;\r\n"},"95":{"name":"biodiversity significance","description":"The importance of an area for the persistence of forest-dependent species based on range rarity.\r\n"},"142":{"name":"boundary plantings","description":"Trees planted along boundaries or property lines to mark them well.\r\n"},"98":{"name":"carbon dioxide equivalent (CO2e)","description":"Carbon dioxide equivalent (CO2e) is a measure used to aggregate emissions from various greenhouse gases (GHGs) on the basis of their 100-year global warming potentials by equating non-CO2 GHGs to the equivalent amount of CO2.\r\n"},"153":{"name":"climate domain","description":"Major ecosystem regions, summarized as boreal, temperate, tropical and subtropical.\u0026nbsp;"},"99":{"name":"CO2e","description":"Carbon dioxide equivalent (CO2e) is a measure used to aggregate emissions from various greenhouse gases (GHGs) on the basis of their 100-year global warming potentials by equating non-CO2 GHGs to the equivalent amount of CO2.\r\n"},"1":{"name":"deforestation","description":"The change from forest to another land cover or land use, such as forest to plantation or forest to urban area.\r\n"},"77":{"name":"deforested","description":"The change from forest to another land cover or land use, such as forest to plantation or forest to urban area.\r\n"},"76":{"name":"degradation","description":"The reduction in a forest\u2019s ability to perform ecosystem services, such as carbon storage and water regulation, due to natural and anthropogenic changes.\r\n"},"75":{"name":"degraded","description":"The reduction in a forest\u2019s ability to perform ecosystem services, such as carbon storage and water regulation, due to natural and anthropogenic changes.\r\n"},"79":{"name":"disturbances","description":"A discrete event that changes the structure of a forest ecosystem.\r\n"},"68":{"name":"disturbed","description":"A discrete event that changes the structure of a forest ecosystem.\r\n"},"65":{"name":"driver of tree cover loss","description":"The cause of tree cover loss, such as agriculture or urban development. There are direct drivers, which are the immediate cause of the loss, and indirect drivers, which are the secondary cause of loss (i.e., land speculation)."},"70":{"name":"drivers of loss","description":"The cause of tree cover loss, such as agriculture or urban development. There are direct drivers, which are the immediate cause of the loss, and indirect drivers, which are the secondary cause of loss (i.e., land speculation)."},"81":{"name":"drivers of tree cover loss","description":"The cause of tree cover loss, such as agriculture or urban development. There are direct drivers, which are the immediate cause of the loss, and indirect drivers, which are the secondary cause of loss (i.e., land speculation)."},"102":{"name":"evapotranspiration","description":"When solar energy hitting a forest converts liquid water into water vapor (carrying energy as latent heat) through evaporation and transpiration.\r\n"},"154":{"name":"fastwood monoculture","description":"Stands of single species planted trees that grow quickly.\u0026nbsp;"},"53":{"name":"forest degradation","description":"The reduction in a forest\u2019s quality and ability to perform ecosystem services, such as carbon storage and water regulation, due to natural and anthropogenic changes."},"54":{"name":"forest disturbance","description":"A discrete event that changes the structure of a forest ecosystem.\r\n"},"100":{"name":"forest disturbances","description":"A discrete event that changes the structure of a forest ecosystem.\r\n"},"5":{"name":"forest fragmentation","description":"The breaking of large, contiguous forests into smaller pieces, with other land cover types interspersed.\r\n"},"155":{"name":"Forest Landscape Restoration","description":"The ongoing process of restoring landscapes to regain ecological functionality and enhance human well-being across deforested or degraded forest landscapes."},"156":{"name":"forest moratorium","description":"A temporary restriction on activities that cause forest loss or degradation."},"69":{"name":"fragmentation","description":"The breaking of large, contiguous forests into smaller pieces, with other land cover types interspersed.\r\n"},"80":{"name":"fragmented","description":"The breaking of large, contiguous forests into smaller pieces, with other land cover types interspersed.\r\n"},"74":{"name":"gain","description":"The establishment of tree canopy in an area that previously had no tree cover. Tree cover gain may indicate a number of potential activities, including natural forest growth or the crop rotation cycle of tree plantations.\r\n"},"143":{"name":"global land squeeze","description":"Pressure on finite land resources to produce food, feed and fuel for a growing human population while also sustaining biodiversity and providing ecosystem services.\r\n"},"7":{"name":"hectare","description":"One hectare equals 100 square meters, 2.47 acres, or 0.01 square kilometers.\r\n"},"66":{"name":"hectares","description":"One hectare equals 100 square meters, 2.47 acres, or 0.01 square kilometers."},"67":{"name":"intact","description":"A forest that contains no signs of human activity or habitat fragmentation as determined by remote sensing images and is large enough to maintain all native biological biodiversity.\r\n"},"78":{"name":"intact forest","description":"A forest that contains no signs of human activity or habitat fragmentation as determined by remote sensing images and is large enough to maintain all native biological biodiversity.\r\n"},"8":{"name":"intact forests","description":"A forest that contains no signs of human activity or habitat fragmentation as determined by remote sensing images and is large enough to maintain all native biological biodiversity.\r\n"},"55":{"name":"land and environmental defenders","description":"People who peacefully promote and protect rights related to land and\/or the environment.\r\n"},"161":{"name":"logging concession","description":"A legal agreement allowing an entity the right to manage a public forest for production purposes, including for timber and other wood products."},"157":{"name":"logging concessions","description":"A legal agreement allowing an entity the right to manage a public forest for production purposes, including for timber and other wood products."},"160":{"name":"Logging concessions","description":"A legal agreement allowing an entity the right to manage a public forest for production purposes, including for timber and other wood products."},"9":{"name":"loss driver","description":"The cause of tree cover loss, such as agriculture or urban development. There are direct drivers, which are the immediate cause of the loss, and indirect drivers, which are the secondary cause of loss (i.e., land speculation).\r\n"},"10":{"name":"low tree canopy density","description":"Less than 30 percent tree canopy density.\r\n"},"104":{"name":"managed natural forests","description":"Naturally regenerated forests with signs of management, including logging and clear cuts.Lesiv et al. 2022, https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41597-022-01332-3"},"91":{"name":"megacities","description":"A city with more than 10 million people.\r\n"},"57":{"name":"megacity","description":"A city with more than 10 million people."},"86":{"name":"natural","description":"A forest that that grows with limited or no human intervention. Natural forests can be managed or unmanaged (see separate definitions).\u0026nbsp;"},"12":{"name":"natural forest","description":"A forest that that grows with limited or no human intervention. Natural forests can be managed or unmanaged (see separate definitions). \r\n"},"63":{"name":"natural forests","description":"A forest that that grows with limited or no human intervention. Natural forests can be managed or unmanaged (see separate definitions).\u0026nbsp;"},"144":{"name":"open canopy systems","description":"Individual tree crowns that do not overlap to form a continuous canopy layer.\r\n"},"88":{"name":"planted","description":"Stands of trees established through planting, including both planted forest and tree crops."},"14":{"name":"planted forest","description":"Planted trees \u2014 other than tree crops \u2014 grown for wood and wood fiber production or for ecosystem protection against wind and\/or soil erosion.\r\n"},"73":{"name":"planted forests","description":"Planted trees \u2014 other than tree crops \u2014 grown for wood and wood fiber production or for ecosystem protection against wind and\/or soil erosion."},"148":{"name":"planted trees","description":"Stands of trees established through planting, including both planted forest and tree crops."},"149":{"name":"Planted trees","description":"Stands of trees established through planting, including both planted forest and tree crops."},"15":{"name":"primary forest","description":"Old-growth forests that are typically high in carbon stock and rich in biodiversity. The GFR uses a humid tropical primary rainforest data set, representing forests in the humid tropics that have not been cleared in recent years.\r\n"},"64":{"name":"primary forests","description":"Old-growth forests that are typically high in carbon stock and rich in biodiversity. The GFR uses a humid tropical primary rainforest data set, representing forests in the humid tropics that have not been cleared in recent years.\r\n"},"58":{"name":"production forest","description":"A forest where the primary management objective is to produce timber, pulp, fuelwood, and\/or nonwood forest products."},"89":{"name":"production forests","description":"A forest where the primary management objective is to produce timber, pulp, fuelwood, and\/or nonwood forest products.\r\n"},"159":{"name":"restoration","description":"Interventions that aim to improve ecological functionality and enhance human well-being in degraded landscapes. Landscapes may be forested or non-forested."},"87":{"name":"seminatural","description":"Forest with predominantly native trees that have not been planted. Trees are established through silvicultural practices, including natural regeneration or selective thinning.FAO"},"59":{"name":"seminatural forests","description":"Forest with predominantly native trees that have not been planted. Trees are established through silvicultural practices, including natural regeneration or selective thinning.FAO"},"96":{"name":"shifting agriculture","description":"Agricultural practices where forests are cleared, used for agricultural production for a few years, and then temporarily abandoned to allow trees to regrow and soil to recover.\u0026nbsp;"},"103":{"name":"surface roughness","description":"Surface roughness of forests creates\u0026nbsp;turbulence that slows near-surface winds and cools the land as it lifts heat from low-albedo leaves and moisture from evapotranspiration high into the atmosphere and slows otherwise-drying winds. \r\n"},"17":{"name":"tree cover","description":"All vegetation greater than five meters in height and may take the form of natural forests or plantations across a range of canopy densities. Unless otherwise specified, the GFR uses greater than 30 percent tree canopy density for calculations.\r\n"},"71":{"name":"tree cover canopy density is low","description":"The percent of ground area covered by the leafy tops of trees. tree cover: All vegetation greater than five meters in height and may take the form of natural forests or plantations across a range of canopy densities. Unless otherwise specified, the GFR uses greater than 30 percent tree canopy density for calculations.\u0026nbsp;\u0026nbsp;"},"60":{"name":"tree cover gain","description":"The establishment of tree canopy in an area that previously had no tree cover. Tree cover gain may indicate a number of potential activities, including natural forest growth or the crop rotation cycle of tree plantations.\u0026nbsp;As such, tree cover gain does not equate to restoration.\r\n"},"18":{"name":"tree cover loss","description":"The removal or mortality of tree cover, which can be due to a variety of factors, including mechanical harvesting, fire, disease, or storm damage. As such, loss does not equate to deforestation.\r\n"},"163":{"name":"tree cover loss due to fire","description":"The mortality of tree cover where forest fires were the direct cause of loss.\u0026nbsp;"},"164":{"name":"tree cover loss due to fires","description":"The mortality of tree cover where forest fires were the direct cause of loss.\u0026nbsp;"},"162":{"name":"tree cover loss from fires","description":"The mortality of tree cover where forest fires were the direct cause of loss.\u0026nbsp;"},"150":{"name":"tree crops","description":"Stand of perennial trees that produce agricultural products, such as rubber, oil palm, coffee, coconut, cocoa and orchards."},"85":{"name":"trees outside forests","description":"Trees found in urban areas, alongside roads, or within agricultural land\u0026nbsp;are often referred to as Trees Outside Forests (TOF).\u202f\r\n"},"151":{"name":"unmanaged","description":"A forest that grows without human intervention and has no signs of management, including primary forest.Lesiv et al. 2022, https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41597-022-01332-3"},"105":{"name":"unmanaged natural forests","description":"A forest that grows without human intervention and has no signs of management, including primary forest.Lesiv et al. 2022, https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41597-022-01332-3"},"158":{"name":"tree cover loss from fire","description":"The mortality of tree cover where forest fires were the direct cause of loss.\u0026nbsp;"}}}